Lokal
Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Minta Restu Ki Gede Sebayu
Rabu, 19 Juni 2024 - 07:00 WIB
Author: Yeri Noveli Editor: Adi Mulyadi
Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Minta Restu Ki Gede Sebayu

(Foto: - Yery Noveli/Radar Tegal Grup - Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Maulana Rohman berdoa di Makam Ki Gede Sebayu, di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.)

RADAR CBS - Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Maulana Rohman, ziarah ke Makam Ki Gede Sebayu di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang. Kehadirannya di Makam Pendiri Tegal itu apakah untuk meminta doa restu?

Ya, Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Maulana Rohman ziarah ke Makam Ki Gede Sebayu untuk mengirim dan memanjatkan doa. Setelah berdoa di makam tersebut, Haji Ischak juga menyambangi para pedagang dan warga sekitar yang tengah beraktivitas. 

 "Alhamdulillah, kita bisa berziarah ke makam pendiri Kabupaten Tegal Ki Gede Sebayu. Kita mengirimkan doa, dan semoga bisa membawa manfaat," kata Haji Ischak yang mengenakan baju koko putih dan berkopyah, baru-baru ini.

Sebelum berziarah, Haji Ischak juga sempat silaturahmi dengan pengelola Makam Ki Gede Sebayu. Kedatangan Haji Ischak mendapat sambutan meriah dari warga sekitar.

Ki Gede Sebayu tokoh berjasa di Tegal

Mengutip Buku Ki Gede Sebayu Babad Negeri Tegal, Ki Gede Sebayu merupakan tokoh yang berjasa besar di Tegal. Beliau merupakan keturunan dari Batara Katong (Adipati Wengker Ponorogo). 

Ayah Ki Gede Sebayu bernama Pangeran Onje yang merupakan Adipati Purbalingga. Diperkirakan Ki Gede Sebayu lahir sekitar tahun 1530-an.

Sejak kecil Ki Gede Sebayu diasuh oleh kakeknya Ki Ageng Wunut. Setelah dewasa mengabdikan diri di Kesultanan Pajang di bawah kepemimpinan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir).

Ketika Kesultanan Pajang dipimpin oleh Arya Pangiri, terjadi pertempuran antara Pangeran Benowo (Putra Jaka Tingkir) yang dibantu oleh Sutawijaya dari Mataram. 

Ki Gede Sebayu ikut turut serta dalam perang tersebut bergabung dengan Pangeran Benowo dan Jaka Tingkir.

Setelah perang usai, pada tahun 1587 ia bersama dengan para pengikutnya mengembara ke arah barat.

Kemudian sampai di Desa Taji (salah satu desa di Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo). Di sana ia disambut oleh Ki Gede Karanglo.

Ki Gede Sebayu lalu melanjutkan perjalanan menuju Banyumas untuk ziarah ke makam ayahnya yaitu Adipati Onje. Dari Banyumas berjalan ke utara melewati Gunung Slamet, sampai di Desa Pelawangan.

Ki Gede Sebayu kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri Pantai Utara ke arah barat, lalu sampai di Kali Gung di Padepokan Ki Gede Wonokusumo.

Di sana ia disambut baik oleh Ki Gede Wonokusumo yang merupakan sesepuh dan penanggungjawab makam Mbah Panggung.

Ia membantu Ki Gede Sebayu untuk menata dan menempatkan pengikutnya sesuai dengan keahliannya masing-masing di sepanjang Kali Gung.

Ki Gede Sebayu takjub dengan tanah subur penuh ilalang di sepanjang Kali Gung yang bermuara di Pantai Utara.

Nama Tegal

Kemudian dibabatlah menjadi Tegalan (sawah yang mengandalkan air hujan). Kemudian daerah tersebut dinamakan Tegal. Daerah tersebut semakin ramai dan berkembang.

Karena mengandalkan air hujan, hasil panen kurang maksimal. Kemudian Ki Gede Sebayu ditemani oleh dua pengikut setianya, Kiai Sura Lawayan dan Kiai Jaga Sura berjalan sepanjang tepi Kali Gung ke selatan sampai di pinggir Gunung Selapi.

Munculah ide untuk membuat bendungan di Kali Gung untuk mengairi sawah-sawah. Ia bersama dengan pengikutnya berhasil membuat bendungan yang diberi nama Bendungan Danawarih yang memiliki arti memberi air.

Selain itu, ia juga membuat beberapa bendungan juga, yaitu Kali Jembangan, Kali Bliruk, dan Kali Wadas yang dikenal dengan sebutan Grujugan Curug Mas yang terletak di Dukuh Kemanglen.

Ki Gede Sebayu juga membangun masjid dan pondok pesantren di Desa Kalisoka. Ketika Pangeran Benowo diangkat menjadi Sultan Pajang, Ki Gede Sebayu diminta untuk menjadi patih, namun ia menolaknya.

Lalu, oleh Pangeran Benowo diangkat menjadi Demang atau sesepuh Tegal pada 15 Safar tahun 988 H, bertepatan dengan malam Jumat Kliwon 12 April 1580 M.

Pada Rabu Kliwon tanggal 12 Rabiul Awal 1010 H, bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1010 H. Ki Gede Sebayu diangkat menjadi juru demang atau setara dengan Tumenggung oleh Panembahan Senapati (Sutawijaya) Penguasa Mataram Islam. Tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Tegal.

Ki Gede Sebayu memiliki 2 orang anak. Pertama Raden Ayu Giyanti Subalaksana yang menikah dengan Pangeran Purbaya, yang merupakan putra dari Panembahan Senapati.

Kedua, Pangeran Hanggawana yang melanjutkan perjuangan dari Ki Gede Sebayu. Ia wafat sekitar tahun 1625 M dan dimakamkan tidak jauh dari bendungan yang ia bangun. Makamnya terletak di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.

Demikian informasi terkait bakal calon bupati Tegal 2024 Haji Sichak Maulana Rohman ziarah ke Makam Ki Gede Sebayu. Apakah untuk minta restu? (*)

  • Share :
Home > Lokal
Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Minta Restu Ki Gede Sebayu
Author: Yeri Noveli
Rabu, 19 Juni 2024 - 07:00 WIB
Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Minta Restu Ki Gede Sebayu

(Foto: - Yery Noveli/Radar Tegal Grup - Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Maulana Rohman berdoa di Makam Ki Gede Sebayu, di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.)

<
RADAR CBS - Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Maulana Rohman, ziarah ke Makam Ki Gede Sebayu di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang. Kehadirannya di Makam Pendiri Tegal itu apakah untuk meminta doa restu?

Ya, Bakal Calon Bupati Tegal 2024 Haji Ischak Maulana Rohman ziarah ke Makam Ki Gede Sebayu untuk mengirim dan memanjatkan doa. Setelah berdoa di makam tersebut, Haji Ischak juga menyambangi para pedagang dan warga sekitar yang tengah beraktivitas. 

 "Alhamdulillah, kita bisa berziarah ke makam pendiri Kabupaten Tegal Ki Gede Sebayu. Kita mengirimkan doa, dan semoga bisa membawa manfaat," kata Haji Ischak yang mengenakan baju koko putih dan berkopyah, baru-baru ini.

Sebelum berziarah, Haji Ischak juga sempat silaturahmi dengan pengelola Makam Ki Gede Sebayu. Kedatangan Haji Ischak mendapat sambutan meriah dari warga sekitar.

Ki Gede Sebayu tokoh berjasa di Tegal

Mengutip Buku Ki Gede Sebayu Babad Negeri Tegal, Ki Gede Sebayu merupakan tokoh yang berjasa besar di Tegal. Beliau merupakan keturunan dari Batara Katong (Adipati Wengker Ponorogo). 

Ayah Ki Gede Sebayu bernama Pangeran Onje yang merupakan Adipati Purbalingga. Diperkirakan Ki Gede Sebayu lahir sekitar tahun 1530-an.

Sejak kecil Ki Gede Sebayu diasuh oleh kakeknya Ki Ageng Wunut. Setelah dewasa mengabdikan diri di Kesultanan Pajang di bawah kepemimpinan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir).

Ketika Kesultanan Pajang dipimpin oleh Arya Pangiri, terjadi pertempuran antara Pangeran Benowo (Putra Jaka Tingkir) yang dibantu oleh Sutawijaya dari Mataram. 

Ki Gede Sebayu ikut turut serta dalam perang tersebut bergabung dengan Pangeran Benowo dan Jaka Tingkir.

Setelah perang usai, pada tahun 1587 ia bersama dengan para pengikutnya mengembara ke arah barat.

Kemudian sampai di Desa Taji (salah satu desa di Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo). Di sana ia disambut oleh Ki Gede Karanglo.

Ki Gede Sebayu lalu melanjutkan perjalanan menuju Banyumas untuk ziarah ke makam ayahnya yaitu Adipati Onje. Dari Banyumas berjalan ke utara melewati Gunung Slamet, sampai di Desa Pelawangan.

Ki Gede Sebayu kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri Pantai Utara ke arah barat, lalu sampai di Kali Gung di Padepokan Ki Gede Wonokusumo.

Di sana ia disambut baik oleh Ki Gede Wonokusumo yang merupakan sesepuh dan penanggungjawab makam Mbah Panggung.

Ia membantu Ki Gede Sebayu untuk menata dan menempatkan pengikutnya sesuai dengan keahliannya masing-masing di sepanjang Kali Gung.

Ki Gede Sebayu takjub dengan tanah subur penuh ilalang di sepanjang Kali Gung yang bermuara di Pantai Utara.

Nama Tegal

Kemudian dibabatlah menjadi Tegalan (sawah yang mengandalkan air hujan). Kemudian daerah tersebut dinamakan Tegal. Daerah tersebut semakin ramai dan berkembang.

Karena mengandalkan air hujan, hasil panen kurang maksimal. Kemudian Ki Gede Sebayu ditemani oleh dua pengikut setianya, Kiai Sura Lawayan dan Kiai Jaga Sura berjalan sepanjang tepi Kali Gung ke selatan sampai di pinggir Gunung Selapi.

Munculah ide untuk membuat bendungan di Kali Gung untuk mengairi sawah-sawah. Ia bersama dengan pengikutnya berhasil membuat bendungan yang diberi nama Bendungan Danawarih yang memiliki arti memberi air.

Selain itu, ia juga membuat beberapa bendungan juga, yaitu Kali Jembangan, Kali Bliruk, dan Kali Wadas yang dikenal dengan sebutan Grujugan Curug Mas yang terletak di Dukuh Kemanglen.

Ki Gede Sebayu juga membangun masjid dan pondok pesantren di Desa Kalisoka. Ketika Pangeran Benowo diangkat menjadi Sultan Pajang, Ki Gede Sebayu diminta untuk menjadi patih, namun ia menolaknya.

Lalu, oleh Pangeran Benowo diangkat menjadi Demang atau sesepuh Tegal pada 15 Safar tahun 988 H, bertepatan dengan malam Jumat Kliwon 12 April 1580 M.

Pada Rabu Kliwon tanggal 12 Rabiul Awal 1010 H, bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1010 H. Ki Gede Sebayu diangkat menjadi juru demang atau setara dengan Tumenggung oleh Panembahan Senapati (Sutawijaya) Penguasa Mataram Islam. Tanggal tersebut diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Tegal.

Ki Gede Sebayu memiliki 2 orang anak. Pertama Raden Ayu Giyanti Subalaksana yang menikah dengan Pangeran Purbaya, yang merupakan putra dari Panembahan Senapati.

Kedua, Pangeran Hanggawana yang melanjutkan perjuangan dari Ki Gede Sebayu. Ia wafat sekitar tahun 1625 M dan dimakamkan tidak jauh dari bendungan yang ia bangun. Makamnya terletak di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.

Demikian informasi terkait bakal calon bupati Tegal 2024 Haji Sichak Maulana Rohman ziarah ke Makam Ki Gede Sebayu. Apakah untuk minta restu? (*)

Editor: Adi Mulyadi
  • Share :
Lainnya