Gegara Kembangkan Tari Sufi, Santri Ponpes di Lebaksiu Tegal Kerap Dapat Job Tampil di Acara Besar
23 Mar 2024 12:00:00 WIB
Author: Yeri Noveli Editor: Adi Mulyadi
Gegara Kembangkan Tari Sufi, Santri Ponpes di Lebaksiu Tegal Kerap Dapat Job Tampil di Acara Besar

(Foto: - Yery Noveli/Radar Tegal - Irham Aji Pangestu, Pengurus dan Pelatih Tari Sufi di Ponpes Misbakhul Huda Amiriyah Putra Kambangan, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, saat tampil di acara pengajian.)

RADAR CBS - Gegara kembangkan Tari Sufi, santri Pondok Pesantren (Ponpes) Misbakhul Huda Amiriyah Kambangan, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal kerap dapat job tampil di acar besar. Ponpes tersebut mulai mengembangkan Tari Sufi sejak tahun 2017.

Sejak dirintis, tidak sedikit para santri yang belajar tarian asal Turki itu. Mereka senang mempelajarinya karena tarian tersebut identik dengan Islam.

Tari ini didominasi dengan memutar badan. Meski demikian, para santri yang diasuh oleh KH Samsul Arifin ini tidak merasakan pusing.

"Jadi awalnya ada alumni di sini yang belajar Tari Sufi di KH Budi Harjono Semarang yang merupakan Guru Tari Sufi Nusantara,” kata Pengurus Ponpes Misbakhul Huda Amiriyah Putra Lebaksiu, Irham Aji Pangestu, Kamis 21 Maret 2024. 

Sejarah terciptanya Tari Sufi

Irham yang juga pelatih Tari Sufi di ponpes tersebut mendapatkan ilmu Tari Sufi dari seniornya. Menurut Irham, kisah Tari Sufi ini berawal saat tokoh Islam di Turki, Syeh Maulana Jaladin Rumi merasa kehilangan gurunya. 

Akibat kehilangan yang mendalam, sehingga Syeh Maulana Jaladin Rumi berputar-putar dengan melafalkan zikir. 

“Tari Sufi ini salah satu bentuk meditasi zikir agar lebih dekat dengan Allah SWT,” ujar Irham yang sudah malang melintang di dunia Tari Sufi itu. 

Perkembangan zaman membuat Tari Sufi semakin banyak diminati. Kendati gerakannya hanya monoton memutar-mutar badan, namun untuk busana yang dipakai bervariasi. 

Bahkan, terbaru pakaiannya menggunakan corak bendera Palestina. Dalam Tari Sufi ada beberapa bagian pakaian yang dikenakan, yakni Jas (hirq), baju (tenor), dan peci tinggi (sikke). 

Pakaian Tari Sufi ini identik dengan kematian

Sebenarnya, kata Irham, pakaian Tari Sufi ini identik dengan kematian.

"Pakaian warna putih melambangkan kain kafan, dan peci tinggi warna coklat melambangkan batu nisan," kata Irham yang pernah tampilkan Tari Sufi di Pelabuhan Merak Jakarta.

Saat ini, santri Ponpes Misbakhul Huda yang belajar Tari Sufi sekitar 20 santri putra dan 15 santri putri. Mereka kerap diundang untuk tampil di acara besar. Seperti pengajian dan maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Tegal dan sekitarnya.

Biasanya, Tari Sufi dibarengkan dengan musik hadroh. Hampir tiap bulan, ada permintaan Tari Sufi di wilayah Tegal dan Brebes. Bahkan, di bulan Ramadan ini sudah ada 18 permintaan Tari Sufi. 

“Sayangnya, kami di pondok banyak kegiatan, sehingga semua permintaan kami batalkan. Fokus ke pondok dulu untuk mengurus para santri,” kata Irham yang menambahkan jumlah santri putra Ponpes Misbakhul Huda sebanyak 120 anak. 

Tips tak pusing saat menari Sufi

Irham yang sudah melalang buana di dunia Tari Sufi memberikan tips agar tidak pusing saat memutar badan. 

Pertama, sebelum melakukan tari harus wudlu dulu dibarengi dengan rasa pasrah. Melakukan gerakan ruku sambil bersyahadat, dan kembali berdiri juga dengan melantunkan syahadat. Lalu, kaki kanan kebelakang dan kaki kiri sebagai tumpuan. 

“Pertama memang pusing, tapi kalau sudah biasa dan sambil zikir tidak pusing,” ujar Irham, santri di Ponpes Misbakhul Huda sejak 2019 lalu. 

Demikian informasi terkait kembangkan Tari Sufi, santri Ponpes di Lebaksiu Tegal kebanjiran job tampil di acara besar. (*)

  • Share :
Gegara Kembangkan Tari Sufi, Santri Ponpes di Lebaksiu Tegal Kerap Dapat Job Tampil di Acara Besar
Author: Yeri Noveli
Editor: Adi Mulyadi
23 Mar 2024 12:00:00 WIB
Gegara Kembangkan Tari Sufi, Santri Ponpes di Lebaksiu Tegal Kerap Dapat Job Tampil di Acara Besar

(Foto: - Yery Noveli/Radar Tegal - Irham Aji Pangestu, Pengurus dan Pelatih Tari Sufi di Ponpes Misbakhul Huda Amiriyah Putra Kambangan, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, saat tampil di acara pengajian.)

<

RADAR CBS - Gegara kembangkan Tari Sufi, santri Pondok Pesantren (Ponpes) Misbakhul Huda Amiriyah Kambangan, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal kerap dapat job tampil di acar besar. Ponpes tersebut mulai mengembangkan Tari Sufi sejak tahun 2017.

Sejak dirintis, tidak sedikit para santri yang belajar tarian asal Turki itu. Mereka senang mempelajarinya karena tarian tersebut identik dengan Islam.

Tari ini didominasi dengan memutar badan. Meski demikian, para santri yang diasuh oleh KH Samsul Arifin ini tidak merasakan pusing.

"Jadi awalnya ada alumni di sini yang belajar Tari Sufi di KH Budi Harjono Semarang yang merupakan Guru Tari Sufi Nusantara,” kata Pengurus Ponpes Misbakhul Huda Amiriyah Putra Lebaksiu, Irham Aji Pangestu, Kamis 21 Maret 2024. 

Sejarah terciptanya Tari Sufi

Irham yang juga pelatih Tari Sufi di ponpes tersebut mendapatkan ilmu Tari Sufi dari seniornya. Menurut Irham, kisah Tari Sufi ini berawal saat tokoh Islam di Turki, Syeh Maulana Jaladin Rumi merasa kehilangan gurunya. 

Akibat kehilangan yang mendalam, sehingga Syeh Maulana Jaladin Rumi berputar-putar dengan melafalkan zikir. 

“Tari Sufi ini salah satu bentuk meditasi zikir agar lebih dekat dengan Allah SWT,” ujar Irham yang sudah malang melintang di dunia Tari Sufi itu. 

Perkembangan zaman membuat Tari Sufi semakin banyak diminati. Kendati gerakannya hanya monoton memutar-mutar badan, namun untuk busana yang dipakai bervariasi. 

Bahkan, terbaru pakaiannya menggunakan corak bendera Palestina. Dalam Tari Sufi ada beberapa bagian pakaian yang dikenakan, yakni Jas (hirq), baju (tenor), dan peci tinggi (sikke). 

Pakaian Tari Sufi ini identik dengan kematian

Sebenarnya, kata Irham, pakaian Tari Sufi ini identik dengan kematian.

"Pakaian warna putih melambangkan kain kafan, dan peci tinggi warna coklat melambangkan batu nisan," kata Irham yang pernah tampilkan Tari Sufi di Pelabuhan Merak Jakarta.

Saat ini, santri Ponpes Misbakhul Huda yang belajar Tari Sufi sekitar 20 santri putra dan 15 santri putri. Mereka kerap diundang untuk tampil di acara besar. Seperti pengajian dan maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Tegal dan sekitarnya.

Biasanya, Tari Sufi dibarengkan dengan musik hadroh. Hampir tiap bulan, ada permintaan Tari Sufi di wilayah Tegal dan Brebes. Bahkan, di bulan Ramadan ini sudah ada 18 permintaan Tari Sufi. 

“Sayangnya, kami di pondok banyak kegiatan, sehingga semua permintaan kami batalkan. Fokus ke pondok dulu untuk mengurus para santri,” kata Irham yang menambahkan jumlah santri putra Ponpes Misbakhul Huda sebanyak 120 anak. 

Tips tak pusing saat menari Sufi

Irham yang sudah melalang buana di dunia Tari Sufi memberikan tips agar tidak pusing saat memutar badan. 

Pertama, sebelum melakukan tari harus wudlu dulu dibarengi dengan rasa pasrah. Melakukan gerakan ruku sambil bersyahadat, dan kembali berdiri juga dengan melantunkan syahadat. Lalu, kaki kanan kebelakang dan kaki kiri sebagai tumpuan. 

“Pertama memang pusing, tapi kalau sudah biasa dan sambil zikir tidak pusing,” ujar Irham, santri di Ponpes Misbakhul Huda sejak 2019 lalu. 

Demikian informasi terkait kembangkan Tari Sufi, santri Ponpes di Lebaksiu Tegal kebanjiran job tampil di acara besar. (*)

  • Share :
Lainnya