Pelaku Ekonomi Kreatif Harus Mampu Membranding Produknya

Ekonomi Kreatif
Pelaku usaha ekonomi kreatif diminta punya hak kekayaan intelektual

TEGAL, radartegalonline – Pemasaran menjadi salah satu problematika besar yang kini harus pelaku ekonomi kreatif hadapi. Karenanya, mereka didorong mampu mem-branding produknya agar pangsa pasar mengenalnya dengan baik.

Wakil Ketua Komisi X Abdul Fikri mengatakan hal itu sesaat sebelum menjadi pembicara dalam kegiatan bintek pengembangan pemasaran pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Tegal.

Menurut Fikri, kekuatan pemasaran ada pada hak kekayaan intelektual. Oleh karenanya, pihaknya mendorong agar para pelaku usaha ekonomi kreatif dapat memilikinya agar mampu memasarkan produknya hingga ke luar negeri.

“Tidak peduli lokasi usahanya di daerah mana. Asalkan brandingnya bagus maka pemasarannya bisa sampai ke luar negeri juga,”kata Fikri.

Oleh karenanya, kata Fikri, melalui bimbingan teknis tersebut, pihaknya berharap para pelaku usaha bisa mem-branding produknya masing-masing. Hal itu, agar punya hak kekayaan intelektual yang menjadi kekuatan pemasaran hingga ke luar negeri.

“Kekuatannya ada di hak kekayaan intelektual. Apalagi, saat ini era semua bisa kemana-mana, produk-produk bisa ke luar negeri,” jelasnya.

Ekonomi Kreatif Sektor Kuliner dan Fashion Berpeluang

Selain itu, kata Fikri, puasa dan lebaran ini menjadi peluang berkembangnya usaha ekonomi kreatif di sektor kuliner, kriya dan fashion.

Sebab, ketiga sektor tersebut mampu bertahan. Sehingga, pertumbuhan ekonomi pada saat pandemi Covid-19 melanda masih dapat bertahan.

“Misalnya kuliner, saat ini mungkin yang biasanya tidak jualan, sekarang menjadi jualan. Apalagi ada moment prebegan,”tandasnya.

Kemudian, imbuh Fikri, agar usaha kuliner bisa bertahan, pihaknya juga mendorong kepada Pemerintah untuk bisa memastikan ketersediaan stok dan harga. Kalau harga bisa naik, tetapi harus terkontrol.

“Kalau harga bisa terkontrol maka tidak akan memberatkan masyarakat, sehingga usaha kuliner mereka bisa bertahan. Demikian juga dengan fashion,”ujarnya.

Selain kuliner, ujar Fikri, sector usaha ekonomi kreatif fashion juga sangat berpeluang. Misalnya batik di Pekalongan yang sempat goyang saat pandemic covid-19 melanda, saat ini sudah menggeliat kembali.

“Batik Pekalongan misalnya, dulu memang waktu pandemi Covid-19 melanda sempat goyah. Tetapi saat ini sudah mulai bangkit kembali. Apalagi sebentar lagi menemui momen lebaran,”pungkasnya. ***

Ikuti Kami di

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *